Rabu, 10 Mei 2017

Foto dan 1001 Keajaiban



Kata Ed Sheeran, sih.
"We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts are never broken
Times forever frozen still"
 
Bagiku, foto adalah hal yang magis, ajaib.
Selain itu, sebutan apalagi yang lebih tepat untuk foto?
Sesuatu yang mengabadikan waktu? Kenangan? Memori?
Sesuatu yang membuat seseorang secara spontan menyunggingkan senyum?
Dalam satu kali bidikan, foto dapat mengabadikan momen yang berlalu
Suatu gambaran dalam bentuk dua dimensi itu mampu membuat seorang manusia mengingat kembali masa lalunya. Entahkah masa lalu yang mengingatkan pada kebahagiaan, kesedihan, kegilaan. Semuanya. Bidikan foto juga dapat membuat seseorang yang berhati keras terenyuh, orang yang bahkan dikira sudah habis air matanya karena tidak pernah terlihat menangis di depan orang lain pun menitikkan air mata.
Foto bahkan seringkali dijadikan sebagai pengganti ‘dia’ yang sudah tiada. Entahkah mama, papa, adik, atau siapapun yang berharga dalam kehidupan kita. Pernah lihat seorang nenek yang memeluk foto suaminya dalam tidur? Atau, pernahkah kalian melihat seorang anak kecil yang rajin berpamitan di depan foto orang tuanya yang sudah meninggal? Bahkan mungkin kalian sendiri mungkin pernah berbicara dengan gambar dua dimensi seolah-olah sedang berbicara dengan manusia sungguhan.
Dalam konteks ini, foto juga dapat dijadikan teman di kala kamu merasa kesepian.
Foto juga memiliki hal magis lain. Dia mampu membuat seseorang yang cemberut sepanjang hari menyunggingkan senyumnya di dalam foto. Itu artinya foto juga objek manipulasi, penipu. Saya yakin hampir semua pembaca postingan ini pernah atau bahkan sering memaksakan diri untuk tersenyum ketika lensa kamera di hadapanmu. Kamu akan menolak untuk difoto apabila kamu merasa wajahmu sedang jelek atau murung. Itu wajar, kok. Aku juga. Kalian juga pasti pernah merasa saat-saat dimana kalian harus berpura-pura terlihat akrab dengan seseorang atau bahkan lebih dari satu orang yang tidak kalian sukai. See? Tidak selamanya foto mengandung kebenaran dalam sebuah momen, seringkali foto juga menyimpan seribu kebohongan dibalik tinta yang bersatu membentuk objek gambar.
Foto juga dapat menjadi objek tempat manusia menggantungkan kebutuhan hidupnya. Hal ini dirasakan oleh orang yang berprofesi sebagai fotografer, pemilik studio foto, pegawai studio foto, dan profesi lain yang bergantung  foto.
Foto juga menjadi simbol harga diri, khususnya perempuan. Jutaan bahkan miliaran perempuan di seluruh Dunia berlomba-lomba untuk terlihat cantik di foto dan memperoleh ‘like’ serta ‘follower’ sebanyak mungkin di Instagram. Untuk yang merasa menjadi bagian dari ‘perempuan’ ini, aku Cuma mau bilang kalau harga diri kalian atau kecantikan kalian tidak ditentukan oleh banyaknya like atau follower yang kalian dapatkan di akun Instagram. Kecantikan sejati datang dari dalam hati, kebaikan yang kalian lakukan. Jangan pernah menganggap dirimu sendiri buruk rupa, jelek, hanya karena pandangan orang lain yang tidak dapat menemukan sisi cantik darimu. Semua orang memiliki sisi indahnya sendiri dan tidak semuanya juga dapat melihat sisi cantikmu. Hanya orang-orang spesial saja yang dapat melihatnya. Lagipula, Instagram hanyalah bagian dari dunia ‘maya’. Maya memiliki definisi sebagai sesuatu yang tidak nyata. Segala sesuatu yang tidak nyata, tidak penting pula untuk dijadikan patokan utama apakah kamu pantas dihargai atau tidak, cantic atau tidak. Untuk semua perempuan yang saat ini merasa jelek, aku cuma mau bilang, kamu cantik dengan apa adanya kamu sekarang. Sudah. Titik. Tidak ada alinea baru, tambahan, syarat, atau embel-embel.
Kamu cantik.
Sangat cantik.
Berhenti mengatakan pada dirimu sendiri bahwa kamu buruk rupa, jelek, dan sebagainya.
Karena kamu memang cantik.
Foto menyimpan duka. Apalagi, foto pada saat upacara pemakaman seseorang yang kamu sayang. Foto menyimpan kenangan bahagia. Terutama foto pada saat resepsi pernikahan dengan pria yang kamu percayakan seluruh hidupmu padanya. Foto menyimpan kisah 1001 perjuangan. Contohnya, foto ketika kamu wisuda. Foto menyimpan kebanggaan. Katakan saja fotomu ketika kamu masih kecil dan sedang tampil di atas panggung. Kebanggaan siapa? Tentu saja kebanggaan tak terungkapkan oleh orang tua, tangan yang membidik kamera untuk mengabadikan momenmu ketika berada di atas panggung. Tangan yang suatu saat akan kamu rindukan genggamannya….
…ya, suatu saat,
Atau mungkin sudah kamu rindukan?
Foto dapat menceritakan perjalanan hidup seseorang. Kebetulan, orang tua saya termasuk rajin mengabadikan gambar diri saya dari bayi. Sehingga, sampai sekarang, saya dapat melihat bagaimana perkembangan dan pertumbuhan yang saya alami dari bayi sampai saya kuliah. Oh ya, satu lagi, saya suka melihat foto bayi, batita, atau balita, karena foto-foto itu jujur. Keceriaan dan tawa yang tertangkap di kamera itu jujur karena bayi tidak tahu bagaimana caranya memanipulasi perasaan. Dan, saya tahu, saya memiliki masa kecil yang bahagia karena di dalam foto-foto itu, saya terlihat tersenyum, atau tertawa dengan menunjukkan barisan gigi baru tumbuh alias tidak lengkap.
Di antara semua foto-foto yang pernah ada, aku berani mengatakan bahwa foto paling berharga bagi setiap manusia di Bumi ini bukanlah foto yang menunjukkan kegantengan atau kecantikanmu. Tapi, justru foto yang membuatmu terbawa kembali dalam kenangan yang indah, foto yang membuatmu tersenyum atau bahkan tertawa, bisa juga diam-diam menitikkan air mata. Foto yang membuat hatimu mendadak merasa kehangatan, kebahagiaan karena senyummu di dalam kamera itu nyata, tidak dibuat-buat. Foto yang membuatmu teringat oleh wajah-wajah tidak asing. Wajah-wajah yang membuatmu bahagia dan sangat berarti dalam kehidupanmu.
Itulah foto yang berharga.
Foto yang sejati.
Foto yang tidak bernilai. Foto yang abadi dalam kartu memorimu, ingatanmu, foto yang mungkin tidak pernah kamu posting di Instagram.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar